Katamu bir-bir berbusa menyimpan
percikan kata-kata rahsia yang kau pendam
bahkan begitu puitis hingga secawan kopi hitam pun
tak mampu menandingi haruman kata-kata itu
aku sangsi pada jari-jarimu
yang menanggalkan sendiri baju dari tubuhmu
barangkali kau terlebih mabuk
dan bibir gelasmu menyimpan lebih dari sekadar jujur
sepotong kenangan
ku guna, ku guna
untuk menajamkan kata-kata
sepotong luka
ku guna, ku guna
untuk memastikan puisi ini bukan pura-pura
barangkali kau harus belajar mengampuni
dan tak terburu-buru menulis puisi,
kerna puisi adalah lebih dari sekadar gerimis mahupun hujan di atas kertas
malah lebih dari sekadar doa-doa patah hati
—-
“Mabuk Puisi” dari buku Sekumpulan Epitaf & Surat-surat Yang Lewat oleh Karl Agan