Kuda lumping menentang kayangan

“Kumpulkan semua orang kita. Semuanya! Sialan dari Palembang itu sudah melampau.”

“Baik datok.”

 Pendekar Tameng beransur dari rumah agam Datok Kencana. Perginya gopoh terkocoh-kocoh. Orang-orang yang masih ada di beranda hanya menghantar Pendekar Tameng dengan ekor mata.
“Datok, mereka ramai. Hulubalang yang dibawa sudah banyak pengalaman berperang dengan Majapahit. Bala tentera mereka juga lengkap dengan segala kelengkapan. Musuh kali ini benar-benar luarbiasa megahnya.” Kata Anang memberi buah pendapat.

“Mereka semuanya lari dari medan tempur, langsung ke sini dan mahu disembah. Tidak, tidak. Tanah ini kita empunya. Musuh datang kita sanggah, tamu datang kita beralah. Sudah dari dulunya begitu.”

Semua yang hadir diam. Ada benarnya kata Datok Kencana. Entah dari mana si hidung belang itu datang, tiba-tiba mahu menjadi raja. Kota yang aman kini berantakan. Semuanya musnah gara-gara si tamak haloba bernama Parameswara.

“Lembing bertemu lembing, keris bertemu keris, rentaka bertemu rentaka! Hulurkan semua kudratmu demi sungai yang mengalir di tepi Bertam!”

Amanat perang Datok Kencana itu menjadi perkara terakhir yang diingati oleh pejuang-pejuang Malaka sebelum badan mereka ditabrak senjata pihak lawan. Semuanya gugur di medan tempur. Kepala Datok Kencana sendiri dipenggal dan dicucuk pada hujung tombak yang kemudian didirikan di tengah kota. Penentangan kecil menentang armada Sriwijaya itu tidak pernah dicatit dalam mana-mana buku sejarah dan terus hilang ditiup angin Selat Melaka.

“Ya, betalah raja kalian.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s