Filsuf kelodan 

Wayan Sudarma yang melayani kunjungan kami ke Bukit Asah tempohari tenang membawa motosikal menyusuri jalan desa.

“Saya lebih senang ke laut, mas.” kata dia.

“Bila ke laut saya jadi senang, mikir sorang-sorang. Kalau dapat banyak ikan, saya lagi senang.”

Aku angguk kepala, walaupun dia tak nampak. 

“Saya faham,” aku balas.

Kemudian dia sambung, 

“Mas tungu aja nanti dalam jam 3 hingga jam 5, selalunya ada meteor.”

Aku kecikkan mata tanda sedang berfikir.

“Kalau saya di laut, dan nampak meteor… Saya akan bergerak ke arah yang dituju meteor. Kepercayaan kami, itu petunjuk untuk arah yang banyak ikan. Dan ternyata benar setiap kali.”

“Waaaaahhhhh,” aku berasa tidak sabar untuk menyaksikan panahan kelodan.

“Memang di sini, itu filsufnya.” 

Ada satu lubang di atas jalan dan Wayan Sudarma pantas mengelak. Dipalingkan muka ke sisi supaya suaranya lebih jelas didengari.

“Mudah-mudahan mas bisa berjumpa meteor ya.” tambah Wayan Sudarma.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s