7.7, Sulawesi Tengah

Hatiku bak sutera,
yang terapung di udara,
dan terbang hilang ke angkasa,
melangkaui lembah dan gunung.

Jiwaku bak kelodan,
yang meluncur di atmosfera,
dan terbakar di udara,
melongsor turun dari kejora.

Dan setiap bintang yang malap,
di hujung dermaga,
di gigi pantai,
di saat melihat jiwa yang tewas.

Bertabahlah. Palu dan Donggala.

Kita sentiasa di tengah-tengah,
Di antara malapetaka, dan kehidupan seterusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s